oleh

Bagi Muhammad Ramdhani, Buny Hop TdL V Lebih Gampang—Berharap Pemkab Kuningan Bangun Tempat Latihan Riders BMX yang Refresentatif

KUNINGAN, (DK). –

Muhammad Ramdhani, pemuda warga lingkungan Ciasem, jalan Pramuka, Dusun Kliwon, RT. 7/RW. 3, Kelurahan Purwawinangun, Kecamatan Kuningan. Sebagai penyandang kejuaraan BMX kategori high buny hop tingkat nasional ini, mengikuti lomba tersebut yang juga digelar dalam rangkaian even Tour de Linggarjati V, dirinya tetap mudah menjuarainya.

“Saya kemarin tanggal 1 September, di Bandung, raih Juara 1 high buny hop BMX pada even Anniversary ke-33 LDC BMX Bandung. Terus, tanggal 7 Septembernya ikut lagi di Tangerang Selatan, even Local Heroes series 110 cm se-Indonesia, dapat juara satu lagi. Sedangkan, dalam Best Trick – Buny Hop TdL ini yang dipertandingkan cuma sampai ketinggian jumping 100 cm,” ungkap Dhani, sapaan akrabnya, kepada www.dialektikakuningan.com, Minggu (15/9/2019).

Muhammad Ramdhani

Dituturkan pria lulusan SMKN 3 Kuningan, jurusan Teknik Kendaraan Ringan ini, bahwa sebenarnya sudah banyak torehan prestasi yang dipersembahkan dari para riders BMX asal Kabupaten Kuningan, baik tingkat nasional sampai internasional. Dan, untuk lebih meningkatkan lagi prestasi, diharapkan pemerintah kabupaten dapat lebih lagi memberikan perhatiannya. Terutama, harus membangunkan sarana latihan yang lebih refresentatif lagi.

“Kami, para riders BMX Kuningan sekarang biasa menggelar latihan tiap sore kalau enggak hujan di lapang Pandapa Paramartha komplek Stadion Mashud Wisnusaputra. Jadwal latihan kami sering terganggu, manakala ada even digelar di sana. Bahkan, fasilitas latihan yang sekarang dipakai pun itu adalah hasil patungan anggota Asosiasi BMX. Harapannya, Pemkab mampu membangun sarana dan prasarana latihan yang lebih refresentatif, kalau bisa indoor,” bebernya.

Dhani menceritakan, kalau untuk memiliki sepeda andalannya harus berjerih payah. Karena, harga sepeda BMX yang berkualitas sangatlah mahal. Sepeda BMX itu tampak sederhana, tapi bahan baku dan sparepart-nya impor semua. Para riders BMX tidak membeli langsung unit sepeda utuh, tapi merangkainya. Untuk sebuah sepeda harus memakan kantong tebal, karena harga palang besi bahan baku BMX berbeda dengan jenis sepeda lainnya, bisa mencapai puluhan juta Rupiah untuk merangkai menjadi utuh unit sepeda BMX.

“Dari mulai waktu masih sekolah dulu saya awalnya menabung menyisihkan uang jajan. Kemudian, dibantu orang tua, akhirnya tercapai memiliki sepeda BMX, dan dapat membalas kebaikan orang tua saya dengan prestasi,” tuturnya.

Dikatakan Dhani juga, untuk PON 2020 di Papua nanti, tercatat dua atlet BMX dari Kabupaten Kuningan atas nama Anto dan Ridwan, akan berlaga di sana, mewakili tim provinsi Jawa Barat. (Erix)

News Feed