oleh

Edelweiss, Kembang Yang Tak Mungkin Kusematkan Ditelingamu

MAJALENGKA, (DK). –

Pagi itu, Minggu (20/10/2019), hari kedua #FestivalEdelweiss di Buper Cidewata, Kabupaten Majalengka, ratusan peserta terbangun dari tendanya masing-masing. Aroma kopi sehangat sunrise menyemangati seluruh makhluk hidup yang berada di bawah langit sana. Orang-orang mulai bergiat tak lagi mau mata dan telinganya terpekak, menyegarkan tubuh dengan sejuknya air pegunungan, nafas pun begitu merdeka menghirup udara bersih alami.

Tumbuh-tumbuhan bergoyang-goyang meliak-liukan dahan dan daun-daunya seiring desiran angin yang masih sepoi-sepoi belum mengencang. Suara-suara binatang hutan di sekitar sana pun turut menyelaras bernada, bak sentuhan melodi jadikan ansambel harmoni kehidupan yang lestari.

Peserta #FestivalEdelweiss bertambah sumringah, kala Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuswandono, membagi-bagikan hadiah menarik. Satu keseruan, kala hadiah sepeda gunung yang begitu alot dalam penentuan siapa pemenangnya, karena semua peserta pintar-pintar dalam menjawab lontaran pertanyaan tentang Gunung Ciremai.

Kerumunan di depan stage #FestivalEdelweiss itu semakin enggan bubar, tatkala dua paras cantik yang raut wajahnya tak asing di pelupuk mata datang menyemarakkan suasana. Dialah Medina Kamil, dan Chintya Tengens, selebriti yang juga menjadi pemandu program mata acara petualangan di salah satu media televisi swasta tanah air. Mereka datang juga bersama dua sosok lelaki rupawan petualang, yakni Harley B Sastha, serta Okka Supardan.

Kuswandono menyambut, dan mempersilahkan duduk bersama di atas panggung untuk menggelar acara talkshow/saresehan tentang Bunga Edelweiss. Ia memulai acara ini dengan memaparkan tentang bagaimana populasi dan ekosistem Edelweiss yang tumbuh di kawasan Gunung Ciremai.

Medina mengatakan, bahwa salah, ketika pendaki gunung sengaja menyabut tumbuhan edelweiss dari habitat aslinya. Hanya sekedar untuk dijadikan kado indah buat sang pacar pendaki, atau bukti cinta belaka. Meski, edelweiss dikenal sebagai tumbuhan yang tak pernah layu, tapi ekologi pertumbuhannya tak lain adalah di pegunungan, bukan di pekarangan rumah.

“Alangkah baik bawa saja pacar kalian bareng-bareng muncak naik gunung. Tapi awas, nemu kembang edelweiss jangan lantas dipetik buat disematkan ke telinga pacar, cukup dipegang aja sambil genggam jemari tangan pacar, sembari berikrar abadi sehidup-semati atau apalah menyungging semesra-mesranya hubungan kalian,” ujarnya.

Penanaman Edelweiss

Adapun, jenis Edelweiss yang tumbuh di Gunung Ciremai adalah anaphalis maxima, yang sulit ditemukan di tempat lain. Maka dari itu, Kepala Balai TNGC, Kuswandono, menegaskan pesan untuk seluruh insan yang benar-benar mencintai alam dan lingkungan, supaya dapat melindungi, merawat, dan melestarikannya.

Berdasar kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten Majalengka, sebagian wilayah di bumi perkemahan Cidewata, Desa Payung, Kecamatan Sindangwangi, yang menjadi tempat penyelenggaraan #FestivalEdelweiss ini, akan dijadikan sebagai tempat budidaya atau taman edelweiss, yang mana akan ditetapkan juga peraturan zona konservasi-nya.

Penanaman Edelweiss pun langsung dilakukan, oleh para peserta #FestivalEdelweiss. Sekitar ratusan bibit yang terdiri dari 4 spesies bunga edelweiss dibudidayakan. Antara lain, anaphalis longifolia, anaphalis javanika, anaphalis maxima yang hanya tumbuh subur di Gunung Ciremai, dan anaphalis visida.

“Sungguh anugerah alam dari Yang Maha Kuasa, Edelweiss di Gunung Ciremai, pada ketinggian 1100-1200 MDPL sudah dapat tumbuh baik. Sedangkan, bila dibanding dengan taman nasional di wilayah lain, tumbuh di ketinggian 2000 hingga 3000 MDPL,” ungkap Kuswandono. (Erix)

News Feed