oleh

Kebenaran Akan Tetap Mengakar dan Terus Tumbuh

OPINI, (DK). –

Suatu malam yang hening setelah mengikuti aksi demonstarasi #GejayanMemanggil, aku ingin merekam jejak ini sebagai bagian buruk, satu pertentangan, perang batin dan kejengkelan. Setumpuk rasa benci memeluk, negara dan pemilik modal telah mengeringkan hutan di Riau, KPK dikebiri, anggota DPR telah lolos dari kepungan. Sialan! Ini adalah penindasan diam-diam. Persetan terhadap negara, itu memekik dalam batin, meski hanya curahan belaka.

Di lain tempat, Cipayung hening, main aman, tak ingin mengambil resiko dari konflik negara dan Civil Society  belakangan ini. Sementara para Mahasiswa diam (meski sebagian juga berteriak), kampus hanya bisa mengomel, menyesalkan, setelah itu kembali duduk diam di ruang dosen. Komplotan 212 raib, agamawan tetiba seolah tak tau apa-apa, tidak ada pekikan “allahu akbar” dari para ulama, kekalahan Prabowo nampaknya jadi akhir dari seluruh perjuangan politik ijtima’ ulama. Sial, mereka hanya sisi lain dibalik pertengkaran kuasa elite. 

Apa yang bisa kita lakukan, siapa yang akan merubah keadaan, apa yang disebut reformasi dan revolusi?, sial itu hanya slogan tanpa upaya. Saya hanya mampu menulis di blog, menyesali diri sendiri, setidaknya sejarah tak pernah saya khianati, hati saya masih empati, peduli dan masih ingin meramu keadaan baru. 

Hari-hari paling gelap, dan hitam. Suatu kehidupan bangsa yang tak lagi punya integritas, kecuali hanya konflik kepentingan sahaja. Bambang Soesatyo, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Adian Napitupuluh, Boediman Soejatmiko dan setumpuk mulut di Senayan telah pantas kita habisi, mereka mengkhianati reformasi dan demokrasi, termasuk Imam Nahrawi, Menpora yang baru saja ditersangkakan. Mereka adalah orang-orang yang telah dipilih bukan untuk memperbaiki, sebaliknya, mereka telah membunuh tatanan yang nyaris rapi. Sia-sia, sialan.

Kepada siapa kita mengadu?, jika Jokowi saja telah memimpin terbukanya pintu korupsi, jika DPR sudah hilang kendali, bila para agamawan kembali sibuk dengan fiqh dan ormas-ormas hanya sibuk mengurusi kadernya sendiri. “Saya Indonesia Saya Pancasila”, mari kita sembunyikan, sungguh memalukan untuk mengucapkan persatuan Indonesai bila papua saja kita biarkan dimaki, tanpa rasa peduli dan tindak apapun, kecuali motivasi abu-abu dari presiden Jokowi. Mari kita sembunyikan Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bila rakyat riau dihabisi api oleh kepentingan korporasi. Mari kita malu mengucap “ketuhanan yang maha esa” bilamana Iman tak pernah berani melawan pembisuan dan pembiusan. Mari kita lupakan kemanusiaan yang beradab jika Isu HAM masa lampau raib dalam perbincangan sehari-hari. Mari kita lupakan hal-hal yang tak pernah kita lakukan dalam laku keseharian. 

“Lawan, Lawan, Lawan!”, para aktivis berteriak di jalanan, saya menghargai optimisme itu, namun tak yakin mampu merubah keadaan, tentu menulis seperti ini tak jauh lebih baik dari turun aksi. 

Sia-sia, persetan. Kita seolah-olah merayakan demokrasi, sambil memotong kebajikan dengan hukum dan politik, dengan kuasa dan kebijakan. Negara macam apa yang tega melihat anak kecil dikepung asap, penguasa seperti apa yang membiarkan rasisme bergulir tanpa pencegahan, negara macam apa yang membiarkan anak bangsa mati, dibunuh, diracun tanpa pertanggung jawaban, berhenti pada retorika sambil menutup jalan baru untuk mengusut pelaku.

Kini hanya dapat berharap bahwasannya tipologi dari gerakan mahasiswa adalah harus murni mengtasnamakan integritas rakyat banyak atau yang disebut dengan populis-populis. Namun, yang kita lihat adalah sebagian gerakan yang terjadi pada 1998 masa reformasi adalah terkesan populiselitis, yaitu menjadikan demosntrasi massa hanya dimanfaatkan untuk dijakdikan sebagai batu loncatan mencapai kekuasaan. Kini tugas seorang cendekiawan mahasiswa yang harus mampu mengakar dan terus tumbuh untuk mengawal segala kebijakan dari elite politik.

Asbabun nuzul Korupsi adalah persokongkolan demokrasi dan kapitalisme. Dan timbulah sebuah pertanyaan, mengapa gerakan anti korupsi merebak tetapi cengkraman oligarki kian kuat?. Demokrasi prosedural membuka jalan lebar koruptor membentuk sistem atau prosedur korupsi yang kian tumbuh dan mengakar. Bisakah korupsi dan sistem oligarki elite politik usang? Karl Marx mengatakan, eksistensi manusia akan ada jika manusia tetap kerja, kreatif dan berkarya. Maka teruntuk mahasiswa yang mempunyai etos intelektual dan pengabdian kiranya bisa tetap untuk merawat dan melestarikan amarah kita. Ingat aksi di Gejayan kemarin baru 1 SKS, masih ada jam kuliah di jalanan yang harus kita lakukan.

Penulis:

Faiz Amanatullah

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Aktivis Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kuningan (IPMK) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Warga Kelurahan Windusengkahan, Kecamatan Kuningan.

News Feed