oleh

Mahasiswa Asal Kuningan Jadi Imam Sholat Ied di Yogyakarta

YOGYAKARTA, (DK). –

Momentum hari raya Lebaran menjadi sesuatu yang amat ditunggu Umat Muslim. Terlebih, bagi para mahasiswa yang sedang melaksanakan studi (kuliah) di luar kota.

Namun, larangan mudik dalam situasi tanggap pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) menjadi ujian berat bagi mahasiswa tersebut. Pasalnya, harus rela merayakan hari raya Idul Fitri jauh dari keluarga seperti biasanya.

Nuansa berbeda dalam memperingati ini, dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa asal Jawa Barat yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Tepat 1 Syawal 1441 hijriah, menggelar Sholat Ied dengan ketentuan protokol kesehatan Covid-19, di Asrama Kujang Jabar, jalan Pengok Kidul No. 14, Kota Yogyakarta, Minggu (24/5/2020).

Satu kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan, di mana dalam pelaksanaan Sholat Ied itu, bertindak menjadi Imam, ialah putra daerah Kuningan yang juga menjadi Ketua Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (IKPM) Jawa Barat, yakni Mohammad Banin.

Adapun yang menjadi penyeru sholat dan doa (muadzin/bilal), Dani Akhiri Fahmi, mahasiswa asal Tasikmalaya. Dan, pengisi Khutbah Idul Fitri (Khotib), Ki Demang Wangsafyudin, seorang Kiai yang juga dikenal sebagai Tokoh Budayawan Sunda, serta satu-satunya orang Sunda yang menjadi Abdi Dalem di Kraton Yogyakarta.

Lihat juga video channel YouTube Dialektika Kuningan:

Khubah Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, disampaikan oleh Ki Demang Wangsafyudin, selaku Khotib dalam pelaksanaan Sholat Ied, di Asrama Kujang Jabar – Yogyakarta, Minggu (24/5/2020).

Ungkapan Mahasiswa

Banin menuturkan, kalau dirinya merasa sedih dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Disamping tidak bisa pulang kampung untuk dapat berkumpul bersama keluarga, untuk kegiatan perkuliahannya pun dirasakan menjadi kurang maksimal.

“Mau bagaimana lagi, pemerintah sudah menetapkan pemberlakuan Social Distancing, terlebih sekarang ada PSBB sampai larangan mudik. Kita harus mematuhinya demi kebaikan untuk seluruh manusia. Karena, selaku Umat Muslim, selain harus patuh kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, kita juga harus mematuhi kebijakan dari Ulil Amri, yakni pemerintah dalam hal ini,” jelasnya.

Sementara itu, Aden Surezy, mahasiswa asal Sukabumi mengutarakan hal senada. Dia mengatakan, efek dari terus-terusan melakukan isolasi mandiri (di rumah aja), merasakan gelaja homesick.

“Jelas, secara psikologis kita kena. Bukan sekedar harus mengurung terus enggak boleh jalan keluar. Untuk mencari makan susah, karena warung-warung pada tutup. Kita harus masak alakadarnya saja,” lirihnya. (Erix)

News Feed