oleh

May Day dan Konsistensi Perjuangan

OPINI, (DK). –

Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh Internasional atau May Day. Awal mula hari buruh, perayaan keberhasilan ekonomi dan sosial buruh oleh gerakan serikat buruh, lahir dari berbagai perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak industrial.

Tahun 1872, MC GUIRE dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok menuntut pengurangan jam kerja. 5 september 1882, parade buruh pertama di New York dengan 20.000 peserta mereka membawa spanduk dengan bertuliskan 8 jam kerja 8 jam istirahat 8 jam rekreasi.

Tahun 1920, Indonesia mulai memperingati hari buruh. Namun, 1968 saat orba hari buruh dilarang. Dan, tahun 1999 muncul lagi kepermukaaan untuk kembali merayakan hari buruh dengan demonstrasi di berbagai kota sampai sekarang.

Bung Karno menyampaikan kepada para buruh untuk mempertahankan politieke toestand. Itu adalah sebuah keadaan politik yang memungkinkan gerakan buruh bebas berserikat, bebas berkumpul, bebas mengkritik, dan bebas berpendapat.

Politieke toestand ini memberikan ruang bagi buruh untuk melawan dan berjuang lebih kuat. Selain itu, buruh juga harus melakukan machtsvorming, yakni proses pembangunan atau pengakumulasian kekuatan. Machtsvorming dilakukan melalui pewadahan setiap aksi dan perlawanan kaum buruh dalam serikat-serikat buruh, menggelar kursus-kursus politik, mencetak dan menyebarluaskan terbitan, mendirikan koperasi-koperasi buruh, dan sebagainya.

Maka dari itu, penulis mengajak kepada semua, khususnya mahasiswa Kuningan untuk tetap konsisten dalam memperingati hari buruh. Kita jadikan hari-hari lainnya seperti 1 Mei. Karena, memang menegakan keadilan dan merebut kembali kebebasan berserikat, bisa berkumpul bebas, berkritik bebas, berpendapat dan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia harus selalu gesit. Bukan hanya memperingati di 1 Mei atau bulan Mei saja. Harus tetap konsisten apalagi dibenturkan dengan hari buruh di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, yang hanya bisa diam di rumah lockdown atau PSBB.

Penulis:

Basith AA, warga Desa Geresik, Kec. Ciawigebang

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

eks Ketum IPMK periode 2016-2017, dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed