oleh

Pacuan Kuda Tradisional, Magnet Pariwisata dan Mengasah Bakat Joki Profesional

KUNINGAN, (DK). –

Kuningan yang dikenal dengan julukan ‘Kota Kuda’, senantiasa melestarikan tradisi masyarakatnya dalam kemahiran menunggang kuda. Hal itu terbukti, dengan rutinnya digelar arena olahraga ketangkasan pacuan kuda setiap merayakan hari jadi Kuningan. Meski didominasi oleh para kusir delman, tapi mampu mengasah talenta, hingga menghasilkan atlet balap kuda atau joki secara profesional.

Minggu (22/9/2019), bertempat di lapang pacuan kuda, jalan lingkar Ir. Soekarno – Kuningan, lomba pacuan kuda tradisional se-Kabupaten Kuningan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) dan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Kuningan, dalam rangkaian perayaan Hari Jadi ke-521 Kuningan, dengan diikuti oleh 80 peserta.

Wakil Bupati Kuningan, H.M. Ridho Suganda, SH., M.Si., yang membuka giat ini, mengatakan, bahwa kuda telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Kuningan. Mulai dari delman yang menjadi angkutan khas Kuningan, maupun sebagai sarana hiburan masyarakat.

Diungkapkannya, ada istilah “kecil-kecil kuda Kuningan”. Istilah tersebut sampai saat ini masih akrab didengar oleh seluruh masyarakat Kuningan, yang mempunyai makna bahwa walaupun Kuda Kuningan itu fisiknya kecil-kecil, akan tetapi bisa bermanfaat. Sehingga, menjadi penyemangat yang selalu tumbuh dalam masyarakat.

“Saya berharap pacuan kuda tradisonal ini dapat menjadi ajang uji kemampuan para joki kusir delman. Semoga, bisa menjadi hiburan untuk masyarakat, dan tetap jaga keselamatan,” tuturnya.

Sementara, Ketua Panitia Penyelenggara, Drs. Jaka Khaerul, mengemukakan, agenda pacuan kuda tradisional ini diharapkan dapat menjadi magnet pariwisata Kabupaten Kuningan. Oleh karena, kuda itu sudah menjadi ikon kebanggaan bagi masyarakat Kuningan. Jadi, disamping harus ditingkatkan prestasinya, dengan kegiatan ini juga dapat melestarikan khazanah budaya tradisi.

“Dengan seringnya digelar even ini, harapannya Kuningan bisa juga melahirkan atlet profesional. Karena juga kuda merupakan lambang Kabupaten Kuningan, seperti ungkap pepatah leluhur Kuningan, “leutik-leutik kuda Kuningan”, biarpun kita hanya dikatakan kota yang kecil tapi kita harus bisa buktikan bahwa Kuningan bisa punya taji dan sima yang menjadikan prestasi luar biasa,” ungkap Jaka, yang juga adalah Kepala Disporapar Kabupaten Kuningan.

Diketahui, lomba pacuan kuda tradisional dibagi menjadi beberapa kategori. Mulai kelas A sampai dengan kelas F, dan di masing-masing kelas itu yang membedakannya adalah jarak tempuh.

Kelas A sampai B, berjarak tempuh 480 meter, dan dari C sampai F, jarak tempuhnya 240 meter. Kategori 480 meter itu sama dengan 4 putaran arena lapangan, dan untuk kategori 240 dilaksanakan sebanyak 2 putaran arena lapangan pacu. (Erix)

News Feed